Senin, 29 Desember 2014

Stalker - Cerpen Spesial Malam Tahun Baru

Malam tahun baru, perayaan dengan sejuta kembang api pada malam hari, dihiasi oleh suara cempreng dari para terompet, dan topi pernak-pernik yang berkilau. Tepat hari ini adalah hari menjelang malam tahun baru. 

Keluargaku ikut merayakannya, sedangkan aku tidak. Tidak terlalu tertarik untuk bersama orang banyak. Saling berdempetan ketika berada di Taman Kota, macet karena banyak motor maupun kendaraan lainnya di jalan raya, dan hal yang membuatku malas lainnya. Aku hanya perempuan lajang yang berumur 21 tahun. 

“Nuki, kami berangkat ya, jaga rumah!” ucap ibuku yang bergandengan tangan dengan ayah, juga adik. Mereka tampak bersiap pergi untuk berpesta merayakan malam tahun baru. 


 

“Iya, bu. Aku di sini aja kok.” Ucapku terdengar malas. 

“Yakin, tidak mau keluar sama kami?” timpal ayahku mencoba menyakinkanku. Aku hanya mengangguk pelan sambil tersenyum. 

“Okelah, aku akan mengunci pintu, ya? Tapi pintu belakang tak dikunci, untuk jaga-jaga apabila kamu ada masalah. Kayak kebakaran, perampokan dan ...” 

“Ibu! Ayo kita akan pergi.” Potong ayahku ketika ibuku menjelaskan. 

Aku hanya tersenyum melihat tingkah mereka. Meskipun begitu, mereka adalah orang tuaku yang mengerti keinginan anehku di malam tahun baru. Sendiri di kamar dan tidak ingin diganggu oleh siapapun. 

Alasan dari keinginannku memang cukup riil. Semua itu agar aku dapat menulis cerpen pertamaku dan beranjak ke novel. Sebelumnya aku bergabung di grup Panchake untuk belajar di sana. Apalagi banyak kesan positif, apabila ditinjau. Banyak cerita menarik, penulis pemula dapat belajar, dan hadiah menarik, apabila mengikuti acara di sana. 

Orang tuaku pergi setelah mengucapkan selamat tinggal dan jaga diriku dengan baik. Aku pasti melakukannya, walaupun itu secara tak sadar. 

Kubuka laptopku di meja belajar kamarku dan segera menulis cerpen pertama. Judulnya ‘Misteri Tuyul Kepala Kotak’. 

Suasana sepi seperti ini memang sempurna, ditambah dengan suara petasan yang samar-samar, walaupun tetangga sebelah juga turut menyalakan petasan. Tapi itu tidak mengangguku seberapa banyak. Lucunya, ada beberapa teriakan senang maupun kaget di antara suara petasan yang meledak. Itu juga menjadi hal yang inspiratif dalam tulisan fiksi pertamaku. Tuyul yang ketahuan mencuri karena petasan. 

Lama-kelamaan, aku merasa haus. Sehinga kuberdiri dari tempat duduk untuk segera mengambil minuman. Dari dapur, aku sekaligus membawa ceret, agar ketika aku haus lagi, maka tidak akan bolak-balik ke dapur. 

Satu hal aneh ketika aku mengambil ceret. Ketika aku mematikan lampu di lorong menuju dapur, terlihat suatu bayangan. Bayangan itu membentuk seorang yang sama tinggi seperti aku, tapi memiliki rambut pirang. Padahal rambutku pendek seperti pria. Saklar lampu lorong dapur terletak di dekat pintu kamar, dikarenakan jarak kamarku memang paling dekat dengan dapur. 

Ketika kunyalakan, tidak ada pemilik bayangan perempuan berambut pirang tadi. Ketika kumatikan, bayangan itu ada, seolah pemilik bayangan tersebut berada di depan pintu kaca dapur. Ketika kunyalakan kembali, hasilnya sama. Tidak ada pemilik bayangan itu. 

Hal aneh itu membuatku bingung. Untuk mengetahui lebih jauh, aku terus menyalakan dan mematikan saklar. Hasilnya tetap sama. Tidak ada seseorang di depan pintu dapur. Lampu tetap kunyalakan. 

Namun aku baru saja menyadari, bahwa bayangan adalah suatu refleksi dari penghalangan suatu benda pada sinar tertentu. Salah satu sinar yang datang ketika saklar dimatikan adalah lampu kamarku. Dan benda yang menghalangi itu adalah aku. Itu berarti pemilik bayangan itu berada di belakangku. 

Bulu kudukku merinding, ketika mengetahui fakta mengerikan itu. Aku mengumpulkan keberanian untuk menoleh ke belakang. 

Nafas legaku berhembus ketika tidak ada seseorang wanita yang ada di belakangku. 

Namun aku berpikir dua kali untuk mengetahui ini. Bayangan tidak akan bereaksi, ketika gelap. Lorong dapur ketika kumatikan, menimbulkan bayangan padahal lorong sedang gelap. Berarti itu bukanlah bayangan, melainkan seseorang. 

Tapi seseorang itu tidak ada ketika kunyalakan. 

Kucoba lagi menyalakan lampu lorong, seketika itu aku terjatuh kemudian merangkak ke dalam kamar, lalu mengunci pintu. Bagaimana, tidak? Bayangan itu sangat dekat denganku. Bahkan jaraknya hampir seperti orang yang bertemu alumni. Entah itu hanya bayangan atau tidak, namun dia tampak sedang menerorku. 

Aku langsung membungkus diri dengan selimut, kemudian mencoba untuk tidur. Sialnya, aku lupa mematikan laptop. 

“Tak apalah, jangan dimatikan. Itu untuk penerangan sedikit. Lagipula, bayangan itu datang, ketika gelap.” Pikirku dalam hati. 

Aku mencoba untuk tidur saja. Kalaupun orang tuaku pulang, mereka yang bawa kuncinya. 

Suatu hal yang tidak mengenakkanku terjadi lagi. Terdengar suara berisik di luar kamarku. Suaranya seperti mencakar sesuatu, kemudian disusul suara rintihan. Tepatnya, rintihan perempuan. Suara itu membuatku mengintip di balik selimut ke arah pintu kamar. Bukan hanya itu saja, suara itu berubah menjadi semacam ketukan pintu, tapi tidak konstan. 

Aku tidak ingin penasaran mengenai hal itu, semakin penasaran, maka aku menjadi semakin takut membayangkan apa saja yang akan terjadi. 

Tak lama dari suara itu, pintu kamarku menjadi terbuka, padahal telah dikunci olehku. Pintu itu hanya terbuka sebagian, tidak menampilkan lorong sepenuhnya.Lampu lorong itu menyala, padahal terakhir aku memasuki kamar dengan keadaan lampu lorong mati. 

Dan hal yang paling kucurigai adalah suara pintu belakang rumah yang kukenal. Ada seseorang yang datang, padahal ini belum waktunya tahun baru. 

Pikiranku pergi kemana-mana. Aku tak tahu harus melakukan apa. Apakah ini mimpi? Kucoba mencubit pipiku sendiri. Memang terasa sakit. 

Aku mencoba menintip lagi, namun tidak berani melakukannya. Ketika aku melakukannya, terlihat sosok wanita menyeramkan berada dekat di tempat tidurku. 

Dia berjongkok menatapku lurus, ketika aku menutupi diri dengan selimut. Wajahnya mneyeramkan, kepalanya hampir putus, dia bahkan setengah telanjang dengan puting yang dipotong, darahnya tercecer kemana-mana, rambutnya pirang, sama seperti ketika aku melihat bayangan atau apalah di lorong dapur. 

Aku berteriak kencang. Dan mencoba lari keluar kamar tanpa mengindahkan hantu itu. Bahkan aku menabrak beberapa benda, ketika mencoba lari ke dapur. Pintu belakang memang terbuka, tapi aku mengumpulkan sisa keberanian lagi untuk keluar dari rumah ini. 

Tanpa kusadari, ternyata ada kedua orang tuaku, adik di belakang rumah. Aku pun menangis sejadinya, lalu memeluk mereka dan bernafas lega, ketika mengalami kejadian ini. Tapi anehnya, aku melihat seorang tetanggaku pingsan di dekat orang tuaku. 

Polisi datang tak lama ketika aku berada di luar rumah bersama kedua orang tuaku. Polisi itu juga menangkap tetanggaku, aku menjadi tak mengerti apa yang sebenarnya terjadi. 

--- 

Tetanggaku, Supardi. Dia ternyata mengalami Necrophillia dan Renfiled Syndrome. Padahal dia baik padaku. Dia ternyata adalah tersangka kasus pemerkosaan sekaligus pembunuhan terhadap pemilik rumahku yang sebelumnya. Pemilik rumah sebelumnya adalah Maria Kresen, wanita lajang dengan penampilan menarik. 

Tetanggaku lama mengintai dan stalk Maria dengan kebiasaan anehnya. Pemilik rumah sebelumnya dibunuh dengan menggorok lehernya hingga putus dan putingnya dipotong, lalu diperkosa. Setelah penangkapan, polisi menemukan toples yang berisi darah positif Maria. 

Tetanggaku ternyata berusaha untuk membunuh sekaligus memperkosaku, namun gagal akibat suara teriakanku dan suara peralatan dapur yang jatuh akibat benturanku, ketika lari. Orang tuaku melihat tetanggaku yang keluar dari pintu belakang merasa curiga ditambah suara jeritanku yang terdengar oleh mereka, sehingga memergoki dan memukulinya hingga pingsan. Itu terbukti karena tetanggaku membawa pisau. 

Berarti selama ini, Bapak Supardi yang baik padaku, hanyalah sebuah perhatian dan selama ini aku diintai olehnya. 

Aku beruntung sekali hari ini, nyawaku selamat. Tampaknya aku harus berterima kasih sekaligus minta maaf dengan Hantu Maria karena menyelamatkanku dari penderitaan lamanya dan berburuk sangka mengenai dirinya yang meneror diriku. 

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar