“Mau
minum bersamaku?” tawarku pada seorang perempuan di dalam rumahnya.
Wanita
itu mengangguk tanda setuju dengan tawaranku. Aku membukakan tutup
botol Guiness untukku dan dia.
Setelah
beberapa lama meneguk minuman itu, langsung kudekapkan tubuhnya
dengan tubuhnku. Dia tampak mabuk dan tidak bisa mengendalikan
dirinya. Dia ganas dan liar apabila di tempat yang lembut, dingin dan
nyaman.
“Mau
menyentuhku lebih dalam?” ucapnya.
Aku
pun membisikkan kalimat godaan di telinganya. “Belum saatnya.”
Dia
memang liar dengan goyangan erotis. Menggodaku dengan bisikan setan
untuk cepat-cepat mengintipnya dan membuka bajunya lebih dalam. Kami
telah tenggelam dalam lautan dosa yang dalam.
Semua
desahannya, kenikmatannya, kecupannya yang berasa stroberi bagi
mulutku. Tak ayal lagi bahwa diriku telah melayang jauh tinggi ke
angkasa asmara merah jambu. Walaupun pada saat perkenalan, dia sangat
halus dan sopan, tapi aku tak menyangka bahwa dia bisa seliar dan
sempurna dari tubuhnya.
Percintaan
ini membuahkan panen dosa yang menumpahkan tubuhku. Dosa yang kental
dan lengket. Selengket lumpur yang terkena air hujan. Dingin ini
merombak nafsu kami. Aku harap ini dapat kucantumkan dalam buku
catatan maupun diari kecilku. Sayangya ini adalah hal yang terlarang.
Apabila
hal ini adalah yang terlarang, tak mungkin aku melakukannya. Saat
ini, aku telah melakukannya.
Di
tengah perlangsungan percintaan itu, dia malah tertidur. Sangat masuk
akal karena aku telah memasukkan obat tidur di dalam bir tadi.
Penggunaan obat tidur bersamaan alkohol itu sangat berbahaya bagi
tubuh manusia. Dia tidak bergerak, walaupun dalam keadaaan seperti
mendekati klimaks.
“Maaf
sayang, aku harus membalaskan dendamku.” Bisikku pelan.
Sayangnya,
hal ini tidak berhenti disitu saja. Aku menginginkan kulitnya yang
halus. Tanganku mulai gatal ketika menyentuh pisau bedah ini. Kusayat
secara perlahan, namun intensif. Aku tidak terburu-buru untuk
mengharapkan kulit secara utuh.
Separuh
kulit mantan pacarku, itu tampak menarik untuk dijadikan bahan
koleksi organ beberapa mantanku.
Hati yang penuh dengan harapan,
tulang belakang yang selalu memunggung keluarga dan kulit satu dengan
lainnya yang harus menyatu. Dua kulit manusia berbeda. Hanya satu
ini, maka koleksiku akan lengkap.
Penyayatan
ini tidak hanya memudahkanku tapi tidak membuatku tergopoh. Kulitnya
kucopot bagai mencopot jas kemeja dengan cara menyamping. Aku takkan
menduga bahwa dia bodoh untuk kembali pada mantan dan memberi
kesempatan untuk memadu kasih atau kata lain, membalas dendam secara
dingin.
Mantan
pertama kehilangan hatinya karena dia selalu mengumbar kasih sayang
layaknya haus akan itu. Aku termasuk dalam korban haus hatinya.
Kehilangan hatinya akan membuatnya jera sekaligus maaf di alam sana.
Tidak
seperti mantan kedua yang kehilangan tulang punggung. Dia
berkeluarga, namun suaminya menjadi pengangguran. Maka aku mengambil
tulang punggung mantanku itu. Sehingga dia seperti tulang punggung
keluarga dalam kehidupannya.
Terakhir
kedua mantanku yang kuambil kulitnya. Begitu indah dan eksotis ketika
aku membujuknya. Sangat indah dan begitu pekat darahnya. Aku begtu
senang ketika hal ini telah berakhir. Separuh kulit ini akan
menyatukan separuh kulit mantanku yang sebelumnya.
Benar-benar
malam yang indah sekaligus eksotis.
----
“Mayatnya
akan dikirm ke laboratorium, pak. Untuk menjalani proses otopsi.”
Ucap polisi junior ketika berhadapan dengan inspektur.
“Baiklah,
kali ini pembunuh berantai itu memakan korban lagi. Mayat tanpa hati,
tulang belakang, kulit. Namun kali ini, mayat kehilangan kulit sama
seperti mayat sebelumnya. Perbedaannya hanya separuh bagian kiri.
Sedangkan mayat sebelumnya kehilangan kulit separuh bagian kanan.”
Tutur pria bertambun dengan jenggot yang bertengger ke bawah dagunya.
“Berharap
saja kita dapat menemukan pelakunya. Sayang sekali keterangan saksi
sebelumnya sangat tidak memadai. Tidak ada CCTV, ataupun tetangga
yang dapat melihat adanya seseorang yang terakhir mengunjungi rumah
ini.” Timpal polisi junior itu.
“Forensik
terkenal seperti Agung, malah tidak bisa mengungkap identitas pelaku
berdasarkan gestur maupun pola dalam pembunuhan ini.
“Sudah
jangan banyak bicara. Kembali bekerja! Cepat investigasi tempat ini
dan temukan bukti yang ada.” Perintah inspektur dengan tegas.
Mereka
tidak mengetahui keberadaanku. Aku seperti hantu. Datang dan pergi,
tanpa meninggalkan jejak. Tidak ada sidik jari yang tertinggal
disana, kecuali milik perempuan yang bercinta denganku semalam. Hanya
saja, mereka tidak mneyadari tentang satu kelemahan pada setiap
penjahat.
Aku
disini bertemu mayat itu kembali. Di meja otopsiku. Akulah yang
bernama Agung itu. Aku sengaja menghilangkan bukti yang paling nonjok
berupa DNA-ku di bagian kelamin perempuan itu. Itu sangat mudah dan
kulakukan secara terselubung.
Tetap
saja, aku dapat menyiksa dengan puas dengan berbagai sayatan maupun
melihat kecantikan organ setelah menikmati dosa yang tidak terlupakan
tersebut. Lengket, bagaikan lumpur.
Tamat

Tidak ada komentar:
Posting Komentar