Sabtu, 06 Desember 2014

Aroma antara Stockholm dengan Busan

Stockholm, salah satu kota yang paling nyaman di dunia. Berada di sebuah salah satu negara yang paling aman di dunia. Aku tinggal disini untukmerintis pendidikan tinggi di Vetenskap Och Konst, ketika disingkat dalam bahasa inggris menjadi KTH University, terletak di Stockholm itu sendiri.

Aku belajar di jurusan Informasi dan Komunikasi Teknologi. Jurusan itu memang paling banyak diminati. Hal itu bukan menjadi latar belakang dalam memasuki jurusan itu, aku berasal dari indonesia, melanjutkan dari Universitas ITB dalam bidang tersebut. Kurasa fokus dalam hal yang berbeda, memang tidak mudah.


Hari ini masih libur, kugunakan dengan berjalan santai bersama Rachel Curtis, sahabatku sejurusan. Aku dengan dia juga satu flat, tentu saja berbeda ruangan. Setiap kapal yang memiliki sekoci dan kapal sekecil cabai dibanding pesiar menjadi pelengkap di sebuah archipelago mini. Kelompok burung mulai bertengger pada setiap atap flat, namun tak ada kotoran yang terlihat.

Tidak terlalucapek untuk berjalan, karena suhunya cukup sejuk daripada di Bandung.Tapi Rachel mengajakku di sebuah kafe. Tentu saja aku tidak menolaknya.

Kafe itu dekat di lokasi kami berhenti. Bel berdentang nyaring ketika kami membuka pintu transparan. Belum lama kami duduk, tiba tiba kami disambut dengan pelayan bercelemek putih dengan wajah yang lucu.

“Ada yangbisa kami bantu?”

“Casual Latte and ... you?” Rachel memesan kemudian menoleh ke arahku, menunggu untuk memberikan lanjutan pada pesanannya.

“Just hottea.” Ucapku.

Pelayan itu kemudian meninggalkan kami berdua. Kulihat rambut pirang putih Rachel yang diikat dilepaskan, jaketnya pun dilepaskan juga menampilkan bentuk tubuhnya yang langsing.

“Kenapa kamu selalu memesan teh setiap kali kita datang kesini?” tanyanya padaku.

“Tak apa. Teh disini cukup murah dan aku harus berhemat untuk itu.” Logat bahasa swediaku cukup buruk ketika harus cepat mengucapkannya. Pelan namunpasti.

“Itu sangatlumayan. Oh iya, apakah kamu bisa datang ke festival besok? Aku sebagai junior menjadi merasa terhormat apabila memberikan piala oscar versi universitas pada kelulusan para senior nanti.” Ucapannya tampak senang dan aku hanya bisa tersenyum melihat wajah semangatnya.

Kemudian aku menggeleng. “Tampaknya aku tak bisa ikut. Karena aku ada janji sebelumnya.”

“Kenapa kamu tidak bisa datang?” pertanyaan tajam dilontarkan itu tiba. Tapi tak lama dari itu, si pelayan datang dengan membawa pesanan kami. Hal itu lumayan meredam sedikit apa yang ditekankan Rachel.

“Terimakasih.” Ucapku pada pelayan tadi.

“Kenapa?”

“Sudah kubilang sebelumnya, bila aku telah berjanji pada seseorang.”

“Who?”

“Someone who you don`t know.” Jawabku singkat.

----

Malam harinya,aku mengecek laptopku, mungkin saja ada pesan. Itulah yang kupikir.Hal yang kupikirkan lainnya adalah seorang gadis yang bernama Indah. Kabar terakhir yang kuterima adalah, dia sedang bekerja sampingan di sebuah toko sepatu di Busan sekaligus kuliah di universitas sebagai desain budaya lokal.

Emailku yang kubuka menuntut salah satu pesan untuk dibaca.

Pesan itu sudah kuduga kedatangannya. Sebelum aku membuka pesan itu, terdapat konfirmasi video call dari seorang yang kutunggu itu. Dengan cepat,aku menekan tombol buka pada video call itu, terlihat wajah manis nan menawan dari Indonesia yang dibalut dengan pakaian ala Korea Selatan.

“Halo, Indra?Gimana kabarmu di Swedia?”

“Lumayan baik. Bagaimana kabarmu sendiri? Sedang lembur?” orang yang kutanya hanya mengangguk dan mengatupkan mulutnya. “padahal aku baru saja hendak membuka e-mailmu.”

“Benarkah? Sejak lusa aku mengirimkan foto itu padamu. Mungkin saja kamu suka. ”Mendengar perintah itu, aku mencoba membuka dua jendela layar sekaligus dengan membuka foto yang disematkan dalam e-mail.

Terlihat Indah berada di sebuah taman penuh tanaman indah dan menawan dengan latar belakang matahari terbenam. Foto lainnya menampilkan latar belakang yang sama, namun pose berfotonya yang berbeda. Senyum yang manis, menggugah senyum yang mani dariku juga.

“Iya, aku suka fotomu. Kamu tampak cantik apabila berpose seperti itu.”

“Makasih.”Kulihat dia menganggkat cangkir lalu meminum isi darinya.

“Bagaimana cuaca disana?” tanyaku ketika melihat dia tampak kedinginan sambil meminum sesuatu.

“Sangatdingin. Bahkan aku habis dua cangkir teh.”

“Disini tidak terlalu dingin. Hanya sejuk saja. Sama seperti kesukaanmu dulu, kan?Teh.” Dia hanya mengangguk atas pendapatku.

Dia terdiam begitu lama. Menatapku dengan lekat. Aku pun melakukan hal yang sama sepertinya. Hanya saja ini sedikit menggangguku ketika seseorang menatapmu lama. Mataku terkadang tidak fokus pada layar laptop didepanku.

“Apa kamu tidak merindukanku?” tanyanya kemudian.

“Aku merindukanmu. Bahkan aku ingin sekali kembali ke Indonesia bersamamu.” Jawabku cepat. “kuyakin ini tidak akan lama. Percayalah!”

Dia hanya tetap diam atas jawabanku yang tampak tergesa-gesa sekaligus canggung. “Aku percaya kok sama kamu. Sayang sekali aku ada banyak pekerjaan disini. Selamat tinggal, Indra.”
Kemudian diamematikan video callnya.

---

Musim dingin diStockholm.

Pohon jati dikota ini sudah menggugurkan daunnya sejak tiga hari, sebelum saljuturun. Kurapatkan jaket tebalku yang kupakai. Hari ini masih tetap 
kuliah. Mata pelajaran kuliah adalah Interaksi antara manusia dankomputer. Pada era ini, memang banyak manusia yang takkan lepas darisuatu benda yang bernama komputer.

Kebetulan akudan Rachel menjadi satu kelompokku dalam mengerjakan tugas kelompok.Kuakui, hubungan antara aku dengannya menjadi sangat sulit sejak akutidak tidak menghiraukannya. Jarang jogging sebelum fajar di pinggirkota, tidak pergi ke kafe, tidak bertatap muka ketika bertemu dantidak menjadi dirinya yang diprioritaskan.

Disaat kamibersama untuk mengerjakan tugas, aku mencoba untuk menenangkandirinya dan mencari tahu penyebab dia menjauhiku. “Kenapa kamuselalu seperti ini?”

Dia diam.

“Setidaknyaketika kamu bicara, kita bisa meringankan masalah atau kesalahankuyang mungkin tidak kuketahui.” Diamnya masih bertahan walaupunkubujuk.

“Kamu tahu,bahwa kmu tidak peka terhadap perasaan seseorang. Aku menyukaimusejak dulu. Nmun kamu tidak mengindahkanku.” Histerisnya tidakmenjadi-jadi. Aku bingung untuk mengatasinya.

“Maafkan aku,aku telah memiliki janji pada seseorang disana. Apabila kamuterlanjur menyukaiku, cukup jadikan aku sebagai temanmu saja. Sekalilagi, maafkan aku.”

Kurasapenolakan ini membuatnya sakit hati. Aku bisa melihatnya. Dia tampaksedih, dan kemudian air matanya membuncah keluar, setelah akumengucapkan penolakan itu. Dia tetap menangis.

Kemudian akumemeluknya. Saat itu, tangisnya berhenti.

Disaat tangisnya berhenti, aku lepaskan pelukanku dan membuatkannya minuman hangat. Kopi mocca adalah kesukaannya.

----

Hari ini adalah libur semester natal.

Aku memanfaatkannya dengan berkunjung ke Indonesia untuk berlibur kesana. Sekaligus bertemu gadis impianku. Kudengar, Rachel telah menemukan cinta sejatinya. Aku bersyukur apabila hal itu bisa terjadi.

Sehinggakini aku bisa tetap mempertahankan cintaku pada gadis gula jawa di Korea.

Kutatap foto seseorang ketika pesawat lepas landas. Pramugari menawarkan kopi padaku, itu mengingatkanku pada sosok Rachel. Aku menolaknya dengan halus kemudian pramugari itu meninggalkanku.

Beberapa jam kemudian, aku telah sampai di Bandara Soekarno Hatta. Kutampatkan kakiku di sebuah bangku panjang untuk menunggunya. Kata indah, maskapai penerbangannya berbeda setengah jam dariku, sehingga aku bisa menunggunya agar pulang bersama.

Aku hanya sibuk meminum teh dalam kotak sambil menunggunya. Tanpa kusadari, ada seseorang yang menyentuh pundakku. Seorang itu adalah orang yang kukenal, Indah. Dia tersenyum padaku karena penampilan kumungkin masih sama seperti terakhir yang dia lihat.

Sedangkan aku? Aku melihat salah satu gadis dari pulau jawa ini berubah menjadi tambah cantik karena tata riasnya dan pengaruh budaya dari korea. Setidaknya itu yang ketahui dari pertemuan awal di bandara ini. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar