Karya Kannibal Resek
Kita bukan berada di situasi perang. Namun masa lalu kelam yaitu perang dunia pertama itulah yang membuatku berdiri di sini.
Tentara digalakkan. Para penduduk Amerika tidak mau untuk mendaftarkan diri dalam medan perang. Aku adalah orang bodoh yang mencari nafkah.
Setidaknya aku mendapatkan pekerjaan.
Aku bukanlah seorang pelaut yang bodoh, atau marinor yang memiliki kekuatan yang tidak bisa aku jelaskan. Di pelabuhan ini, aku mendapatkan suatu mimpi.
Pelabuhan yang bernama Pearl Harbour ini akan diserang.
Entah siapa yang menyerangnya. Seseorang memberitahuku dalam mimpi. Presiden Roosevelt membuat kebijakan baru tentang Jepang.
Presiden itu membuat kebijakan antara lain, menghentikan impor minyak Jepang dari perusahaan Amerika yang tentunya menjadi kendala bagi penjajahannya di Indonesia untuk menggalakkan Romusha, membekukan aset milik Jepang di Amerika untuk diberikan pada Federal Reserve, dan memberi pinjaman secara terbuka pada kelompok nasionalis China dan suplai senjata pada Ingris.
Aku tau Jepang memusuhi kedua negara dalam perang. Yang secara logika, pihak netral tak mungkin membantu pihak musuh untuk berperang dan sekaligus melanggar hukum internasional tentang perang.
Itu pada beberapa bulan yang lalu. Pada tiga hari yang lalu, aku mendapatkan panggilan dari intelijen Australia yang kukenal mendapatkan laporan.
"Sir Henry! Apa kamu tau tentang pergerakan armada Jepang menuju Pearl Harbour? Cepat lakukan tindakan sekarang!"
"Terima kasih. Akan kusampaikan segera!"
Sebenarnya aku menyampaikan pada Kapten agar melakukan penahanan. Apa yang dilakukan Presiden Roosevelt memang benar-benar memicu kemarahan Jepang.
Kembali ke kamarku adalah hal yang menyenangkan. Kamar 706. Mengingatkanku pada rumah, gubuk yang biasa dengan halaman yang biasa tidak ada tanaman dan babi bermandi lumpur di sana.
Dua hari setelah aku memberitahu kepada atasan dan akhirnya atasanku memberitahu kepada presiden, atasanku berubah air mukanya. Dia berkata agar semua unit tetap siaga di pelabuhan ini. Apapun yang terjadi.
"Apakah kita akan mendapatkan bantuan udara atau tambahan amunisi senjata?"
"Tidak!" jawabnya dengan singkat.
"Tapi, pak! Penyerangannya diprediksikan besok menurut radar Intelijen Australia."
"Dengar, Sersan. Kemungkinan lain, Jepang itu akan melewati kita dan menyerang penduduk sipil di sana. Apakah kita akan berdiam diri dan tak melawan?"
"Tidak, pak. Bukan begitu ..."
"Tapi apa?"
"Kita belum tahu, kekuatan Jepang seperti apa. Sementara senjata atau pesawat kita belum diketahui apakah mampu di sini. Tidak ada bantuan udara atau apapun yang digunakan untuk melawan Jepang!"
"Diam, Sersan. Aku sedang memikirkannya. Lebih baik kamu keluar dari ruangan ini. Segera!"
Aku menuruti perintahnya dan kembali ke kamarku. Sial. Secara logika, kita semua akan mati.
Apa yang dipikirkan presiden satu ini? Mengindarkan Amerika dari perang selanjutnya dan tidak akan mengulang dari perang sebelumnya. Itu terdengar omong kosong.
Menggerutu sambil berjalan di koridor. Tampak konyol. Setelah memeasuki kamarku, aku melihat ada perbedaan lagi di sini.
Kamarku sebelumnya yang gelap, bercahaya jendela luar dengan bintang atau cahaya matahari, kini berubah menjadi terang bersilau.
Senapan yang berada di dalam kamar untukk melindungi diri mungkin menjadi hilang dari pandanganku. Sial, aku tak bisa melihat apa-apa dari pemandangan ini.
Kamar ini begitu menyilaukan, tapi ini adalah kamarku. Pelaut atau marinir lainnya tidak melihatku bertingkah seolah menutupi mata dari silauan cahaya bagai pedang.
Apakah aku berada di surga? Itulah pandangan umum para pelaut. Tak ada salahnya aku berpikir itu adalah surga.
Aku berjalan lurus ke kamar ini. Semuanya silau. Biasanya kamar ini sempit, tapi aku berjalan lurus membelakangi pintu hampir beberapa menit. Tak ada ujung, namun suara ombak terdengar jelas di otakku.
Semua silauan itu menjadi gelap. Gelap seperti sebelumnya. Tapi tempat ini bukanlah kamar 706. Melainkan lautan lepas. Aku berdiri di atasnya.
Beberapa pesawat melintas di atasku. Pesawat dengan logo Amerika di sana. Bantuan udara!
Hari itu adalah hari penyerangan Jepang. Aku tidak bisa melihat pelabuhan yang diserang itu. Terlalu jauh untuk meraihnya.
Hingga pandanganku mengabur dengan mulut penuh air asin. Sebelum pandanganku mengabur, aku melihat wanita. Kupikir itu adalah wanita duyung.
-----
Keesokan harinya, aku ditemukan di Teluk Pasifik Bagian Amerika. Dengan seragam marinir Amerika, aku tak mengerti kenapa dirubungi seperti ini.
Dikelilingi oleh penghuni teluk, sepertinya aku tak sadarkan diri selama beberapa jam.
"Apa kamu baik-baik saja?"
Aku mengangguk sambil memegangi kepalaku.
"Kamu adalah pelaut dari Pearl Harbour, kan?"
Sebelum menjawab itu, aku terlanjur pingsan lagi. Sial.
-----
Setelah sadarkan diri, penghuni teluk itu bernama George. Dia mendengar berita melalui radio bahwa Pearl Harbour diserang 2 hari lalu, tepatnya 7 Desember 1941.
Kejadian itu hampir menewaskan 2400 tentara. Aku mengerti kejadian itu akan terjadi. Dan aku akan termasuk dari 2400 orang yang tewas itu.
Sebelum Pearl Harbour, hampir 90% warga Amerika tidak menginginkan perang. Tapi setelah kejadian ini, warga Amerika geram termasuk George.
Aku menahannya untuk ikut berperang dan tetap tinggal di rumah. Perang adalah permainan dari Presiden. Itulah definisiku setelah selamat dari ini.
Pertanyaannya adalah apakah setiap dongeng tentang pelaut, termasuk putri duyung yang kulihat itu benar-benar ada? Atau apa yang terjadi dengan kamar 706?
Tamat
Surabaya, 13 Mei 2015
------------------------------
Note: Cerpen ini digunakan untuk mengisi kegiatan Parade Cerpen Fantasi tema Kamar Rahasia. Kannibal Resek adalah nama hantu dari Rafi Izam. Untuk mengetahui tentang Panchake dan dapat ilmu tentang menulis, bisa langsung ke: https://m.facebook.com/groups/
Tidak ada komentar:
Posting Komentar