Karya: Rafi Izam
Mungkin saja orang lain lebih beruntung daripadaku.
Adik kelasku yang berada di kelas 1 dan 2 SMP sekarang mulai libur. Sedangkan aku yang kelas 3 SMP akan menghadapi UNAS. Sedangkan teman sepantaranku sudah mendapatkan pegangan bocoran.
Sial. Aku hanya bermodalkan logika otak dan ingatanku untuk menghadapi semuanya. Itu lebih rumit dari yang kubayangkan sebelumnya.
Sebenarnya aku tak ragu untuk meminta pada temanku. Tapi percuma saja, semua belajarku maupun deretan ibadah atau mohon ampun pada Tuhan. Semua dilema ini membingungkanku.
Hari yang ditentukan untukku UNAS telah tiba. Memasuki ruangan kelas ini tak menjadi seperti biasa. Temanku justru melangkahkan kaki dengan gontai seakan bebannya tidak terasa oleh mereka.
Aku pun harus pura-pura bersikap seperti itu.
Seandainya pengawasnya tidak seram seperti yang kubayangkan. Hal ini penting karena posisi dudukku paling depan dan tepat berada di hadapan meja pengawas.
Pensil yang kupegang menjadi santai. Semua soal ini persis dengan apa yang kupelajari dulu. Meskipun hanya berganti angka, tapi rumusnya takkan jauh beda dari yang kupelajari.
Tiba-tiba saja ...
Seorang gadis cantik yang memiliki sayap layaknya seorang peri datang begitu saja menembus dinding.
"Saya adalah peri kejujuran. Manakah diantara kalian yang bernama Rafi?"
Semua mata terpana pada kecantikan peri itu. Tingginya semapai, rambut pirang berwarna merah muda dengan sayap bercorak di belakangnya. Pengawas di depanku menjadi melongo penasaran hingga mendekati peri itu dengan sedikit takut, sekaligus tak percaya apa yang dilihatnya.
Ketika tangan pengawas mendekatinya. Seperti yang kubayangkan, peri itu menangkap tangannya. "Saya bukan imajinasi kalian. Saya nyata."
Spontan pengawas itu histeris kaget dan melompat menjauh dari jangkauan peri.
"Sekarang saya tanya sekali lagi. Mana diantara kalian yang bernama Rafi?"
Langsung saja semua temanku menunjuk ke arahku tanpa suara. Ini seperti film Sharkboy and Lavagirl. Sayangnya ini tidak ada peri cowok dan ini terlalu nyata.
Tidak seperti kubayangkan, peri itu sontak menyebarkan suatu bubuk. Bubuk itu menyebar ke seluruh ruangan. Dengan sekali menghirup semua bubuk itu, aku terbatuk-batuk. Terkecuali, teman-temanku.
Semua temanku mendadak berubah menjadi kerangka manusia. Semuanya, kecuali aku. Semua telah menghilang. Dan peri itu mendekatiku.
"Ada apa ini? Mereka udah jujur nunjukin aku Rafi? Kenapa mereka jadi gini?"
"Setidaknya mereka tidak jujur di ujian ini." Ujarnya sambil mendekatiku.
Aku mulai berpikiran aneh-aneh tentang peri itu. Sikap dan gelagatku mulai tak karuan.
"Woi, Raf. Ngapain lu tidur? Mentang-mentang udah selesai main tidur aja."
Aku terbangun dari tidur gara gara gugahan dari temen. Beruntung, aku selesai ujian dan tidur. Peri itu tak ada dan teman temanku masih hidup.
Sayangnya, aku penasaran dengan apa yang dilakukan peri itu selanjutnya padaku?
Tamat
Surabaya, 1 Mei 2015
Tidak ada komentar:
Posting Komentar