Selasa, 20 Januari 2015

Impianku di Bumi Kota Maritim (Hystory Fiction pertamaku)

Wah, maaf ya jadi jarang ngeblog. karena adanya kesibukan tersendiri untukku. hehe
silahkan dinikmati cerpen buatanku ini. :)
Karya: Rafi Izam
---------------------------------------
Demo dipertengahan november tahun 1631, di Batavia.Sanggahan keras dari beberapa pihak terutama warga bebas campuran menuntut hak mereka atas kebijakan gubernur jenderal mereka yang baru menjelang Jan Pietersz Coen pada kematiannya, Heeren ke dua belas. 

Biasanya aku sebagai pekerja industri kain yang bekerja pada majikanku. Ikut dalam salah satu dari ribuan demonstran yang berada di depan balai kota yang belum runtuh. Mereka semua, disini akibat kebijakan Heeren ke dua belas bahwa pelarangan warga bebas menyewa ruangan dalam kapal VOC untuk mengangkut dari Toromandel ke Asia Tenggara.



Bukan hanya kami, tapi majikan kami para orang belanda juga tidak setuju berat dan merasa frustasi akibat kebijakan yang menguntungkan mereka dalam distribusi antar negara. Aku disini karena paksaan dari majikan, apabila aku tidak melaksanakannya, maka aku akan dirantai.

Sebelumnya juga seperti itu. Aku dituduh berselingkuh dengan istri majikan akibat dia sering pergi ke dapur dan ladang. Kecurigaan itu terlalu besar hingga menderitaku. Budak dari india yang hanya bisa merajut kain.

Sementara majikanku mengajukan petisi dan sibuk mengurus surat permohonan pada Pemerintahan Agung, aku berniat untuk hengkang dan memilih bergabung dengan para pemijat, pemburu, petani dan para barisan ronda bersenjata.

Yah, aku merindukan hal itu. Sekitar pukul 9, aku biasa berjudi untuk menghilangkan penat. Orang susah sepertiku hanya ingin bersenang-senang. Makananku hanyalah kacang kemiri dan makanan apa saja yang bukan makanan bangsawan di atas piring aluminium berkarat.

Yang biasa dilakukan barisan itu hanyalah mabuk yang diiringi pukulan tambur dan mengumbar kejelekan para orang china. Gerombolan aneh itu terus menghiasi Jalan Prinsen, tempatku bertarung dengan anak buah Van Catersvelt di atas meja judi.

Tapi aku selalu menang diatasnya.

Kudengar istri majikanku telah dihukum wajahnya dibakar dengan tuduhan peselingkuhan dan kumpul kebo yang dilarang saat ini. Kuharap majikannya tidak menuduhku pelaku selingkuhan sehingga kepalaku akan berakhir di atas pedang algojo istana.

Aku tetap melanjutkan perjalanan ke pelabuhan untuk pulang ke India. Kudengar banyak perompak yang ada akibat kebijakan yang membuatku kelaparan selama lima hari di rumah majikan.

Banyak para Mestizo di pelabuhan dekat pasar ikan ini. Kuberitahu mengenai para penduduk di batavia. Orang eropa sangat tetap disini. Para orang cina mendominan dengan sunda dan jawa. Para kompeni yang lebih banyak daripada orang belanda yang memiliki banyak modal untuk minim pengalaman menjajah.

Sebagian dari mereka pulang ke tanah air dengan kecewa dan sebagian lagi menetap akibat pernikahan dengan orang batavia pribumi dan orang asia. Dari tiga ribuan laki laki dan wanita termasuk aku yang menginjak di tanah bumi Batavia pada abad pertengahan abad 17, hanya kurang lebih 300 orang eropa menikah dengan orang pribumi.

Oleh sebab itu, jumlah mereka sedikit. Tersisa kompeni dan para kongsi dagang lainnya yang bertahan hidup. Terutama aku dengan perut kelaparan.

Para perompak kecil maupun besar tampak berapi-api ketika menghadang kapal layar besar. Bahkan aku diberi senjata oleh seorang yang tak dikenal karena rupaku yang menyerupai dengan mereka. Mereka memberinya gratis karena menganggap telah menyewa perahu.

Aku tak berniat untuk bertarung. Aku ingin pulang ke tanah air. Kenekatan budak sepertiku seperti mendaki gunung tertinggi di dunia.

Menikmati tidur siang, berladang sawi, dan berjudi lagi di tanah air, India.

Dentuman peluru dan teriakan meriam begitu memekakkan telinga. Mereka menyerang kapal portugis dengan membabi-buta. Tak ada meriam di pihak Portugis yang memberikan keuntungan bagi pihakku.

Perahu kecil yang perawatannya begitu sembrono, menjadi tenggelam sebelum menyentuh tubuh kapal. Aku menjadi was-was, mengingat diriku tidak bisa bela diri atau memainkan pedang dan pistol.

Para perompak umumnya warga berkulit putih mulai membajak kapal. Portugis juga tak mau kalah dalam penyerangannya. Mereka membalas balik dengan serangan pistol mereka. Sayangnya mereka kalah banyak dengan jumlah perompak.

Aku ingin pergi ke negara Taj Mahal. Bukan merompak kapal orang lain.

Sebelum kalimat itu ditegaskan dalam dadaku, dadaku terlanjur rusak akibat hantaman peluru Portugis. Masyarakat kolonial umumnya perompak ada yang mengenaliku sebagai buronan.

Mereka memenggal kepalaku hingga pandanganku menjadi berkunang-kunang dan gelap.

Impianku di kota maritim, Batavia ini telah kandas. Menikmati sisa udara yang kuhirup, namun tak bisa. Peralihan kapal itu masih terus terjadi.

Kepalaku yang menjadi tebusan untuk buronan selingkuhan istri majikanku.

Tamat

Tidak ada komentar:

Posting Komentar