Pemilu
2014 akan dimulai.
Banyak warga di kampungku akan
menyalurkan hak demokrasinya pada tanggal 9 juli itu. Sangatlah antusias ketika
beberapa kampanye diadakan di beberapa kampung maupun pinggir jalan. Tak asing di penglihatanku pamflet, poster
maupun wajah calon presiden yang menghiasi beberapa sudut Kota Surabaya.
Aku hanyalah siswa pada jurusan
kimia pada suatu STM di Surabaya. Pemuda yang baru saja menginjak 17 tahun, berbakat
dengan intelektual dan kritisnya dalam kesehariannya aktifitas debat bahasa
inggris yang menjadi ekstrakurikuler sekolah. Debat yang menggunakan bahasa
inggris memanglah tidak mudah pada awalnya, namun akan terbiasa ketika selalu
dilakukan.
Dengan kebijakan orang yang memiliki
KTP maupun 17 tahun, tentu memiliki hak pilih dalam pemilu. Namun pada hari
menjelang pemilu dimulai, aku sama sekali belum menentukan pilihan presiden
yang kupilih.
Seringkali bingung ketika temanku
bertanya, “kamu pilih apa pas pemilihan nanti?”
“Aku tak tahu harus pilih apa.”
Ucapku sambil mengangkat bahu.
“Kalo gitu, pilih nomer satu aja.
Dia itu tegas, berwibawa sekaligus bisa membawa indonesia menjadi lebih baik
lagi.” Jelasnya. Sebenarnya penjelasannya sangat panjang mengenai pilihan itu,
namun kusingkat saja.
“Iya, ntar aku pilih itu.” Ucapku
agar dia puas tentang apa yang diucapkannya.
Padahal aku orangnya kritis dan
tidak mau terkesan menerima dogma. Banyak paradigma masyarakat yang mengatakan
nomer satu adalah presiden yang terbaik, begitupula sebaliknya.
Banyak sekali perbedaan pendapat
ketika aku melihat debat capres. Sangat mengesankan, mereka saling menjatuhkan
argumen lawan masing-masing namun tetap mempertahankan etika dan sopan santun. Teratur
karena adanya moderator dan penonton yang melihat secara langsung tidak mungkin
rusuh atau sebagainya. Acara debat yang mungkin saja bisa dilihat dari seluruh
indonesia.
Aku yang melihatnya pertama kali
pada saat itu membahas tentang ekonomi. Salah satu dari mereka menunjukkan
program yang akan dijalankan dan sedangkan satunya menunjukkan solusinya yang
mungkin lebih baik dari lawan. Perdebatan panjang itu menimbulkan satu
kesimpulan dan pemenang di bidang ekonomi.
Ketika capres itu kalah, sebagian
masyarakat yang kontra dengan capres tersebut malah menghina dan mencaci
makinya. Ketika lawan capres itu menang, sebagian masyarakat yang pro dengan
capres itu juga membalas hina dengan tak kalah dibanding sebelumnya.
Suasana semakin memanas.
Di media sosial bahkan internet juga
menyebarkan berita maupun tuduhan tentang kejelekan masing masing capres. Salah
satunya yang mengatakan capres boneka, sedangkan satunya lagi mengatakan capres
yang melanggar HAM. Bahkan banyak sekali masyarakat yang mudah percaya dengan
adanya isu maupun tuduhan tersebut.
Orang yang kritis tentu merasa
bingung. Begitupun denganku.
Setiap kali aku menanggapi postingan
yang bersifat pro dengan netral, bukan melawannya. Itu karena aku masih belum
tahu siapa yang akan kupilih. Ketika ada orang yang mendukung nomer satu tapi
menjelekkan nomer dua tanpa pendasaran, aku balas dengan sopan dan argumen yang
mendasar. Begitupula perlakuan yang sama untuk pendukung nomer dua tapi
menjelekkan nomer satu tanpa mendasar.
Hingga pada akhirnya, mereka malah
memakiku di media sosial. Dan pada titik puncaknya, aku berhenti untuk
mengikuti beberapa postingan yang menurutku membuat masyarakat menjadi lebih
sesat pada pilihan demokratis.
Pada suatu hari, aku mengikuti kajian
mengenai anti golput. Rata-rata kebanyakan orang yang golput itu adalah orang
yang kritis dan apatis terhadap politik. Aku yang merasa bahwa diri ini kritis
menjadi tak ingin kritis akibat fakta mengejutkan itu.
Sebagai sisa ketakutan, aku mencoba
melakukan pencarian informasi lagi. Dalam batinku, mengatakan bahwa mungkin
saja ini adalah usaha terakhirku dalam mencari pilihan yang tepat. Mengingat
aku belum memutuskan siapa capres yang akan kupilih. Pada saat itu bertepat
dengan satu minggu menjelang pemilu.
Salah satu alasan yang paling
mendasar ketika kupegang dalam pemilu adalah ‘setiap orang memiliki kelebihan
dan kelemahan masing-masing. Maka pilihlah yang menurutku kelebihannya lebih
banyak dan kekurangannya lebih sedikit.’
Kalimat tersebut sering kulontarkan
dalam hati ketika aku duduk di tempat dimana aku menunggu giliran untuk
mencoblos.
Pada saat mencoblos, aku sangat lama
sekali untuk berada di kotak pemilihan. Keringatku keluar karena panasnya suhu.
Meskipun berada di outdoor dan tertutup dengan terop, tapi masih saja rasa
gugupku waktu pertama kali pemilu semakin menjadi-jadi. Sehingga aku memilih
pilihan yang menurut kalimat yang kulontarkan tadi.
Perbedaan pendapat bukan hanya
sampai disini saja!
Aku salah mengira ketika perdebatan
dan perbedaan pendapat hingga membuat teman menjadi bermusuhan itu akan
berakhir setelah pemilu. Ternyata masih ada lagi perbedaan pendapat setelah
terjadi pemilu.
Ketika salah satu capres menuntut
karena tak sesuai dengan apa yang diharapkannya, ketika beberapa saksi yang pro
capres itu hendak membela namun menjadi bahan ejekan di dunia maya. Ketika
adanya sekelompok orang yang menyesal menjadikannya presiden karena dinilai
tidak mampu dan kinerjanya tidak terlihat. Hingga sang presiden hendak menjual
pesawat negara pun terjadi perbedaan pendapat.
Cek cok terjadi. Pemusuhan juga
semakin menjadi-jadi. Padahal sebelumnya, capres telah memberikan wawasan
bahwasanya sportifitas itu dibutuhkan.
Perbedaan pendapat yang menjadi
sebuah permusuhan demi mengikuti perasaan dan keinginannya. Merasa paling benar
tanpa mau disalahkan.
Pada zaman Rasulullah SAW, juga ada
yang terjadi perbedaan pendapat.
Diantaranya pada saat perang dan
mendapat banyak tawanan perang, Abu Bakar dan Muhammad SAW mengusulkan agar
dikembalikan ke Mekkah dengan membayar tebusan dari keluarganya.
Tapi Umar bin Khattab tidak menyetujuinya dan
mengusulkan agar membunuh tawanan perang. Alasan Umar mengusulkan itu karena
ketika dikembalikan, maka terjadi balas dendam dan kaum kafir dapat
mengumpulkan pasukan yang lebih kuat lagi.
Perdebatan dan perbedaan pendapat pun terjadi karena
usulan yang bersifat kontradiktif di antara mereka. Sehingga turun wahyu Allah
yang memerintahkan untuk membunuh tawanan perang. Permasalahan selesai dan
tidak ada yang terjadi permusuhan di antara Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab.
Yang membuat perbedaan pendapat
tidak menimbulkan permusuhan adalah jiwa ksatria dalam menerima kesalahan dan
tidak menghina orang yang memiliki perbedaan pendapat.
Dalam kisah tentang tahanan perang
tersebut juga mengungkapkan bahwa Rasulullah salah usulan tentang memperlakukan
tahanan perang badar, namun beliau tetap menerima kesalahan. Menghormati
pendapat orang lain dan tidak menghina Umar ketika berbeda pendapat. Walaupun
status beliau adalah seorang nabi, dia tidak menyombongkan bahwa nabi tidak pernah
salah. Tidak! Kisah Beliau-lah menjadi teladan untuk menghormati pendapat orang
lain dan menerima kesalahan pendapat diri sendiri.
Aku berharap orang indonesia tidak
memiliki sifat mau menang sendiri, selalu menerima pendapat orang lain maupun
menerima kesalahan dari pendapat darinya. Sifat mau menang sendiri itu dapat
menimbulkan konflik yang melanggar sila tiga dan empat.
Persatuan Indonesia dengan
kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan
perwakilan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar