Sabtu, 27 September 2014

Debat Inspiratif (Cerita Pendek Inspiratif)

Pemilu 2014 akan dimulai.
            Banyak warga di kampungku akan menyalurkan hak demokrasinya pada tanggal 9 juli itu. Sangatlah antusias ketika beberapa kampanye diadakan di beberapa kampung maupun pinggir jalan.   Tak asing di penglihatanku pamflet, poster maupun wajah calon presiden yang menghiasi beberapa sudut Kota Surabaya.
            Aku hanyalah siswa pada jurusan kimia pada suatu STM di Surabaya. Pemuda yang baru saja menginjak 17 tahun, berbakat dengan intelektual dan kritisnya dalam kesehariannya aktifitas debat bahasa inggris yang menjadi ekstrakurikuler sekolah. Debat yang menggunakan bahasa inggris memanglah tidak mudah pada awalnya, namun akan terbiasa ketika selalu dilakukan.
            Dengan kebijakan orang yang memiliki KTP maupun 17 tahun, tentu memiliki hak pilih dalam pemilu. Namun pada hari menjelang pemilu dimulai, aku sama sekali belum menentukan pilihan presiden yang kupilih.
            Seringkali bingung ketika temanku bertanya, “kamu pilih apa pas pemilihan nanti?”
            “Aku tak tahu harus pilih apa.” Ucapku sambil mengangkat bahu.
            “Kalo gitu, pilih nomer satu aja. Dia itu tegas, berwibawa sekaligus bisa membawa indonesia menjadi lebih baik lagi.” Jelasnya. Sebenarnya penjelasannya sangat panjang mengenai pilihan itu, namun kusingkat saja.


            “Iya, ntar aku pilih itu.” Ucapku agar dia puas tentang apa yang diucapkannya.
            Padahal aku orangnya kritis dan tidak mau terkesan menerima dogma. Banyak paradigma masyarakat yang mengatakan nomer satu adalah presiden yang terbaik, begitupula sebaliknya.
            Banyak sekali perbedaan pendapat ketika aku melihat debat capres. Sangat mengesankan, mereka saling menjatuhkan argumen lawan masing-masing namun tetap mempertahankan etika dan sopan santun. Teratur karena adanya moderator dan penonton yang melihat secara langsung tidak mungkin rusuh atau sebagainya. Acara debat yang mungkin saja bisa dilihat dari seluruh indonesia.
            Aku yang melihatnya pertama kali pada saat itu membahas tentang ekonomi. Salah satu dari mereka menunjukkan program yang akan dijalankan dan sedangkan satunya menunjukkan solusinya yang mungkin lebih baik dari lawan. Perdebatan panjang itu menimbulkan satu kesimpulan dan pemenang di bidang ekonomi.
            Ketika capres itu kalah, sebagian masyarakat yang kontra dengan capres tersebut malah menghina dan mencaci makinya. Ketika lawan capres itu menang, sebagian masyarakat yang pro dengan capres itu juga membalas hina dengan tak kalah dibanding sebelumnya.
            Suasana semakin memanas.
            Di media sosial bahkan internet juga menyebarkan berita maupun tuduhan tentang kejelekan masing masing capres. Salah satunya yang mengatakan capres boneka, sedangkan satunya lagi mengatakan capres yang melanggar HAM. Bahkan banyak sekali masyarakat yang mudah percaya dengan adanya isu maupun tuduhan tersebut.  
            Orang yang kritis tentu merasa bingung. Begitupun denganku.
            Setiap kali aku menanggapi postingan yang bersifat pro dengan netral, bukan melawannya. Itu karena aku masih belum tahu siapa yang akan kupilih. Ketika ada orang yang mendukung nomer satu tapi menjelekkan nomer dua tanpa pendasaran, aku balas dengan sopan dan argumen yang mendasar. Begitupula perlakuan yang sama untuk pendukung nomer dua tapi menjelekkan nomer satu tanpa mendasar.
            Hingga pada akhirnya, mereka malah memakiku di media sosial. Dan pada titik puncaknya, aku berhenti untuk mengikuti beberapa postingan yang menurutku membuat masyarakat menjadi lebih sesat pada pilihan demokratis.
            Pada suatu hari, aku mengikuti kajian mengenai anti golput. Rata-rata kebanyakan orang yang golput itu adalah orang yang kritis dan apatis terhadap politik. Aku yang merasa bahwa diri ini kritis menjadi tak ingin kritis akibat fakta mengejutkan itu.
            Sebagai sisa ketakutan, aku mencoba melakukan pencarian informasi lagi. Dalam batinku, mengatakan bahwa mungkin saja ini adalah usaha terakhirku dalam mencari pilihan yang tepat. Mengingat aku belum memutuskan siapa capres yang akan kupilih. Pada saat itu bertepat dengan satu minggu menjelang pemilu.
            Salah satu alasan yang paling mendasar ketika kupegang dalam pemilu adalah ‘setiap orang memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masing. Maka pilihlah yang menurutku kelebihannya lebih banyak dan kekurangannya lebih sedikit.’
            Kalimat tersebut sering kulontarkan dalam hati ketika aku duduk di tempat dimana aku menunggu giliran untuk mencoblos.
            Pada saat mencoblos, aku sangat lama sekali untuk berada di kotak pemilihan. Keringatku keluar karena panasnya suhu. Meskipun berada di outdoor dan tertutup dengan terop, tapi masih saja rasa gugupku waktu pertama kali pemilu semakin menjadi-jadi. Sehingga aku memilih pilihan yang menurut kalimat yang kulontarkan tadi.
            Perbedaan pendapat bukan hanya sampai disini saja!
            Aku salah mengira ketika perdebatan dan perbedaan pendapat hingga membuat teman menjadi bermusuhan itu akan berakhir setelah pemilu. Ternyata masih ada lagi perbedaan pendapat setelah terjadi pemilu.
            Ketika salah satu capres menuntut karena tak sesuai dengan apa yang diharapkannya, ketika beberapa saksi yang pro capres itu hendak membela namun menjadi bahan ejekan di dunia maya. Ketika adanya sekelompok orang yang menyesal menjadikannya presiden karena dinilai tidak mampu dan kinerjanya tidak terlihat. Hingga sang presiden hendak menjual pesawat negara pun terjadi perbedaan pendapat.
            Cek cok terjadi. Pemusuhan juga semakin menjadi-jadi. Padahal sebelumnya, capres telah memberikan wawasan bahwasanya sportifitas itu dibutuhkan.
            Perbedaan pendapat yang menjadi sebuah permusuhan demi mengikuti perasaan dan keinginannya. Merasa paling benar tanpa mau disalahkan.
            Pada zaman Rasulullah SAW, juga ada yang terjadi perbedaan pendapat.
            Diantaranya pada saat perang dan mendapat banyak tawanan perang, Abu Bakar dan Muhammad SAW mengusulkan agar dikembalikan ke Mekkah dengan membayar tebusan dari keluarganya.
Tapi Umar bin Khattab tidak menyetujuinya dan mengusulkan agar membunuh tawanan perang. Alasan Umar mengusulkan itu karena ketika dikembalikan, maka terjadi balas dendam dan kaum kafir dapat mengumpulkan pasukan yang lebih kuat lagi.
Perdebatan dan perbedaan pendapat pun terjadi karena usulan yang bersifat kontradiktif di antara mereka. Sehingga turun wahyu Allah yang memerintahkan untuk membunuh tawanan perang. Permasalahan selesai dan tidak ada yang terjadi permusuhan di antara Rasulullah SAW dan Umar bin Khattab.
            Yang membuat perbedaan pendapat tidak menimbulkan permusuhan adalah jiwa ksatria dalam menerima kesalahan dan tidak menghina orang yang memiliki perbedaan pendapat.
            Dalam kisah tentang tahanan perang tersebut juga mengungkapkan bahwa Rasulullah salah usulan tentang memperlakukan tahanan perang badar, namun beliau tetap menerima kesalahan. Menghormati pendapat orang lain dan tidak menghina Umar ketika berbeda pendapat. Walaupun status beliau adalah seorang nabi, dia tidak menyombongkan bahwa nabi tidak pernah salah. Tidak! Kisah Beliau-lah menjadi teladan untuk menghormati pendapat orang lain dan menerima kesalahan pendapat diri sendiri.
            Aku berharap orang indonesia tidak memiliki sifat mau menang sendiri, selalu menerima pendapat orang lain maupun menerima kesalahan dari pendapat darinya. Sifat mau menang sendiri itu dapat menimbulkan konflik yang melanggar sila tiga dan empat.

            Persatuan Indonesia dengan kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar