Minggu, 28 September 2014

Bacotan Jones: Tentang Tayangan Tak Mendidik


Saat ini telah heboh dengan isu KPI akan melarang dan mencap tayangan tak mendidik ataupun berbahaya bagi anak anak. Seperti Spongebob, Little Khrisna, Tom and Jerry, Doraemon. Terdapat kontra dari sebagian masyarakat pada KPI maupun sinetron alay seperti Ganteng Ganteng Serigala, Pacarku Manusia Harimau ataupun Bastian Steel. Entah benar atau tidak, itu adalah opini masyarakat.



Kalo menurut KPI tayangan spongebob dikategorikan bahaya atau semacamnya. Mari kita lihat di luar negeri. Anak yang seusia SD tuh malah diajarin seks. Kalian gak percaya? Ketika kalian mendengar hal itu, maka hal pertama yang terbersit di pikiran kalian adalah hal yang merujuk pada seksualitas atau hal yang membahayakan bagi mental anak. Padahal tidak!

Tujuan mereka diajarkan seks adalah tindakan pencegahan terhadap kriminal pedofil yang banyak terjadi di negara itu.

Darisini kita bisa simpulkan bahwa kebanyakan orang indonesia tuh selalu cepat menyimpulkan dan berpikiran pendek. Mereka tidak berpikiran panjang atas apa yang akan dilakukan. Seenaknya sendiri memutuskan suatu perkara tanpa latar belakang dan tujuan yang jelas. Khususnya KPI, mereka hanya menilai pada sisi kekerasan pada animasi itu.

Padahal animasi kayak Spongebob Squarepants tuh populer di banyak negara luar terutama indonesia. Terutama kartun tersebut selalu memenangkan enam kali Kid`s Choice award. Belum lagi Kid`s Choice Award di Amerika sana. Di Luar negeri, mereka tetap baik baik aja dengan adanya animasi itu, bahkan animasi itu dikategorikan sebagai semua umur.

Ketika berbicara tentang tidak mendidik, itu sebenarnya merupakan perbedaan perspektif. Misalkan ketika remaja menonton spongebob, maka mereka bisa memfilter dan menyimpulkan bahwa episode A itu menceritakan tentang persahabatan. Ketika anak kecil menonton, kujamin mereka hanya menceritakan sebatas konflik Mr. Krab dan Plankton dalam mencuri krabby patty, atau Squidword yang selalu membenci Spongebob.

Yang menjadi persoalan itu adalah, kenapa perspektif orang dewasa itu harus disamakan dengan anak anak?

Daridulu, animasi selalu menayangkan pukul pukulan sejak adanya Mickey Mouse, The Adventure of Tin Tin atau Bugs Bunny. Kartun mereka menayangkan pukul pukulan. Orang dewasa menganggapnya sebagai kekerasan sedangkan anak kecil menganggap itu adalah hiburan.
Pola pikir anak itu imajinatif, suka meniru yang baginya menarik dan mudah terpengaruh.

Ketika dia melihat animasi yang pukul-pukulan itu, dia menganggapnya sebagai hiburan dan sesuatu yang lucu. Terlebih lagi ketika di bom atau di tusuk pisau sekalipun kayak Tom, animasinya tetap hidup. Malahan ketika dia berimajinasi, dia mengangap hal itu adalah suatu hiburan. Kalo perspektif orang dewasa tentunya beda kalo lihat gituan.

Kita akan mengingat kembali pada tragedi tewasnya anak gara gara film Smackdown. Anak anak meniru adegan gulat pada smackdown karena pola pikir anak tadi. Dia suka meniru apa yang dilhatnya itu menarik. 
Dengan melihat disekeliling ring selalu mendukung jagoannya untuk melawan lawannya. Maka perspektif anak itu terpengaruh. Dia malah melihat hal itu sebagai hiburan. Tapi yang perlu menjadi tanda tanya adalah apakah smack down itu termasuk kartun? Nggak kan?

Kalopun anak anak meniru kekerasan pada spongebob, little khrisna, atau tom and jerry. Itu hanya sebatas meniru cara bicaranya dan tingkah laku dari kartun itu sendiri. Jujur sekali, aku juga mengalami hal itu. dan sering kuperhatikan beberapa anak selalu meniru gaya bicara kartun. Dan itu tidak terlalu over pada kekerasan.

Kemudian berpindah pada sinetron alay yang disebut Ganteng Ganteng serigala atau sejenisnya. Sebenarnya aku tidak setuju apabila sinetron ini dibilang tidak mendidik. Karena seperti alasan tadi. Mendidik atau tidaknya suatu hal itu bergantung pada perspektif masing masing.

Aku lebih setuju pada sinetron seperti Ganteng Ganteng Serigala, Pacarku Harimau, dan Bastian Steel itu copas karya luar negeri daripada tidak mendidik. Dan kurasa sebagian warga indonesia termasuk aku, malah setuju itu hasil copas karya orang lain.

Ketika kalian takut apabila merusak generasi bangsa atau meracuni anak anak dengan pacaran dan cinta-cintaan, menurutku itu bukan kesalahan mereka. Tapi itu kesalahan pengawasan orang tuanya. Kalo memang orang tuanya tidak ingin anaknya terjebak pada arah dewasa, maka haruslah menjadi tanggung jawab orang tua untuk mengawasi mereka.

Walaupun anak menonton bokep hingga tidak diawasi oleh orang tua mereka. Maka anak bakal terus nonton bokep. Beneran! Tidak semua orang tua itu sama. Ada yang memperhatikan anaknya dan ada pula yang tidak memperhatikan anaknya. Jadilah itu tanggung jawab orang tua masing masing dalam membentuk generasi. Bukankah mereka pengen anaknya tuh masa depannya baik?

Kalo orang tua pengen generasi masa depan anaknya baik, maka orang tua harus mengawasi anaknya.
Aku sedikit kaget kalo ada adegan ciuman pada sinetron itu. Terlebih lagi, aku baru tau bahwa minat penonton itu kebanyakan kalangan pertama adalah remaja dan kedua adalah anak anak. Ini serius. Bukan main main. Seharusnya apabila anak anak tidak menonton itu.

Tidak perlulah untuk menghapus sinetron itu gara gara alasan aneh itu, cukup dengan pengawasan orang tua dalam memberikan tayangan yang selayak bagi mereka dan menghapus sinetron yang BENAR BENAR COPAS.

Copas dan terinspirasi itu sangat beda. Kalo terinspirasi tuh kayak Sherlock Holmes yang terinspirasi oleh 
Lecoq dan mereka adalah sama sama detektif. Namun tetap ada perbedaan yang besar bagi mereka berdua. Sedangkan Copas adalah menyalin seluruhnya. Meskipun ada perbedaan, tapi berbedaannya hanya sedikit.

Tolong, jangan samakan perspektif orang dewasa dengan anak anak.

Apa yang KPI takutkan itu seharusnya tontonan anak tanpa pengawasan orang tua, bukan tayangan yang menurut perspektif personal mereka buruk.

Tolong, hapus saja sinetron yang bersifat copas dan tak wajar untuk dilihat anak anak. Apalagi ada adegan ciumannya.


Sekian. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar