Saat ini telah heboh dengan isu KPI akan
melarang dan mencap tayangan tak mendidik ataupun berbahaya bagi anak anak.
Seperti Spongebob, Little Khrisna, Tom and Jerry, Doraemon. Terdapat kontra
dari sebagian masyarakat pada KPI maupun sinetron alay seperti Ganteng Ganteng
Serigala, Pacarku Manusia Harimau ataupun Bastian Steel. Entah benar atau
tidak, itu adalah opini masyarakat.
Kalo menurut KPI tayangan spongebob
dikategorikan bahaya atau semacamnya. Mari kita lihat di luar negeri. Anak yang
seusia SD tuh malah diajarin seks. Kalian gak percaya? Ketika kalian mendengar
hal itu, maka hal pertama yang terbersit di pikiran kalian adalah hal yang
merujuk pada seksualitas atau hal yang membahayakan bagi mental anak. Padahal
tidak!
Tujuan mereka diajarkan seks adalah tindakan
pencegahan terhadap kriminal pedofil yang banyak terjadi di negara itu.
Darisini kita bisa simpulkan bahwa kebanyakan
orang indonesia tuh selalu cepat menyimpulkan dan berpikiran pendek. Mereka
tidak berpikiran panjang atas apa yang akan dilakukan. Seenaknya sendiri
memutuskan suatu perkara tanpa latar belakang dan tujuan yang jelas. Khususnya
KPI, mereka hanya menilai pada sisi kekerasan pada animasi itu.
Padahal animasi kayak Spongebob Squarepants
tuh populer di banyak negara luar terutama indonesia. Terutama kartun tersebut
selalu memenangkan enam kali Kid`s Choice award. Belum lagi Kid`s Choice Award
di Amerika sana. Di Luar negeri, mereka tetap baik baik aja dengan adanya
animasi itu, bahkan animasi itu dikategorikan sebagai semua umur.
Ketika berbicara tentang tidak mendidik, itu
sebenarnya merupakan perbedaan perspektif. Misalkan ketika remaja menonton
spongebob, maka mereka bisa memfilter dan menyimpulkan bahwa episode A itu
menceritakan tentang persahabatan. Ketika anak kecil menonton, kujamin mereka
hanya menceritakan sebatas konflik Mr. Krab dan Plankton dalam mencuri krabby
patty, atau Squidword yang selalu membenci Spongebob.
Yang menjadi persoalan itu adalah, kenapa
perspektif orang dewasa itu harus disamakan dengan anak anak?
Daridulu, animasi selalu menayangkan pukul
pukulan sejak adanya Mickey Mouse, The Adventure of Tin Tin atau Bugs Bunny.
Kartun mereka menayangkan pukul pukulan. Orang dewasa menganggapnya sebagai
kekerasan sedangkan anak kecil menganggap itu adalah hiburan.
Pola pikir anak itu imajinatif, suka meniru
yang baginya menarik dan mudah terpengaruh.
Ketika dia melihat animasi yang pukul-pukulan
itu, dia menganggapnya sebagai hiburan dan sesuatu yang lucu. Terlebih lagi
ketika di bom atau di tusuk pisau sekalipun kayak Tom, animasinya tetap hidup.
Malahan ketika dia berimajinasi, dia mengangap hal itu adalah suatu hiburan. Kalo
perspektif orang dewasa tentunya beda kalo lihat gituan.
Kita akan mengingat kembali pada tragedi
tewasnya anak gara gara film Smackdown. Anak anak meniru adegan gulat pada
smackdown karena pola pikir anak tadi. Dia suka meniru apa yang dilhatnya itu
menarik.
Dengan melihat disekeliling ring selalu mendukung jagoannya untuk
melawan lawannya. Maka perspektif anak itu terpengaruh. Dia malah melihat hal
itu sebagai hiburan. Tapi yang perlu menjadi tanda tanya adalah apakah smack
down itu termasuk kartun? Nggak kan?
Kalopun anak anak meniru kekerasan pada
spongebob, little khrisna, atau tom and jerry. Itu hanya sebatas meniru cara
bicaranya dan tingkah laku dari kartun itu sendiri. Jujur sekali, aku juga
mengalami hal itu. dan sering kuperhatikan beberapa anak selalu meniru gaya
bicara kartun. Dan itu tidak terlalu over pada kekerasan.
Kemudian berpindah pada sinetron alay yang
disebut Ganteng Ganteng serigala atau sejenisnya. Sebenarnya aku tidak setuju
apabila sinetron ini dibilang tidak mendidik. Karena seperti alasan tadi.
Mendidik atau tidaknya suatu hal itu bergantung pada perspektif masing masing.
Aku lebih setuju pada sinetron seperti Ganteng
Ganteng Serigala, Pacarku Harimau, dan Bastian Steel itu copas karya luar
negeri daripada tidak mendidik. Dan kurasa sebagian warga indonesia termasuk
aku, malah setuju itu hasil copas karya orang lain.
Ketika kalian takut apabila merusak generasi
bangsa atau meracuni anak anak dengan pacaran dan cinta-cintaan, menurutku itu
bukan kesalahan mereka. Tapi itu kesalahan pengawasan orang tuanya. Kalo memang
orang tuanya tidak ingin anaknya terjebak pada arah dewasa, maka haruslah
menjadi tanggung jawab orang tua untuk mengawasi mereka.
Walaupun anak menonton bokep hingga tidak
diawasi oleh orang tua mereka. Maka anak bakal terus nonton bokep. Beneran!
Tidak semua orang tua itu sama. Ada yang memperhatikan anaknya dan ada pula
yang tidak memperhatikan anaknya. Jadilah itu tanggung jawab orang tua masing
masing dalam membentuk generasi. Bukankah mereka pengen anaknya tuh masa
depannya baik?
Kalo orang tua pengen generasi masa depan
anaknya baik, maka orang tua harus mengawasi anaknya.
Aku sedikit kaget kalo ada adegan ciuman pada
sinetron itu. Terlebih lagi, aku baru tau bahwa minat penonton itu kebanyakan
kalangan pertama adalah remaja dan kedua adalah anak anak. Ini serius. Bukan
main main. Seharusnya apabila anak anak tidak menonton itu.
Tidak perlulah untuk menghapus sinetron itu
gara gara alasan aneh itu, cukup dengan pengawasan orang tua dalam memberikan
tayangan yang selayak bagi mereka dan menghapus sinetron yang BENAR BENAR
COPAS.
Copas dan terinspirasi itu sangat beda. Kalo
terinspirasi tuh kayak Sherlock Holmes yang terinspirasi oleh
Lecoq dan mereka
adalah sama sama detektif. Namun tetap ada perbedaan yang besar bagi mereka
berdua. Sedangkan Copas adalah menyalin seluruhnya. Meskipun ada perbedaan,
tapi berbedaannya hanya sedikit.
Tolong, jangan samakan perspektif orang dewasa
dengan anak anak.
Apa yang KPI takutkan itu seharusnya tontonan
anak tanpa pengawasan orang tua, bukan tayangan yang menurut perspektif personal
mereka buruk.
Tolong, hapus saja sinetron yang bersifat
copas dan tak wajar untuk dilihat anak anak. Apalagi ada adegan ciumannya.
Sekian.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar