Prinsip dalam perang lama adalah lumpuhkan komunikasi bantuan agar tidak muncul beberapa bantuan yang merepotkan. Menyerang layaknya hantu yang pergi dan masuk tanpa jejak. Prinsip lama nazi itu diterapkan dalam dunia modern seperti sekarang ini.
Bukan berarti siapapun pemegang prinsip lama ini adalah nazi.
Aku hanyalah seorang yang ingin melakukan tugas. Tugas yang sederhana, membunuh target pada salah seorang di kantor kepolisian.
Terlebih, hari ini aku masuk penjara akibat balas dendam. Padahal aku belum melakukan pembunuhan. Memang belum untuk saat ini.
Di penjara yang kutuju sebagai tempat target tinggal, aku nekat mengeluarkan pistol di hadapan para penjaga penjara. Tapi aku tidak menodong mereka. Akhirnya aku diringkus tapi aku tidak melawan mereka.
Hari ini, akan kumulai target pembunuhanku. Salah seorang yang menyamar menjadi tahanan disana, memberikanku ponsel dan pistol peredam suara untuk sebuah alat penunjang tugas.
Dengan ponsel ini, aku bisa melihat keadaan penglihatan CCTV. Bahkan aku dapat mengacaukan komunikasi antar penjaga penjara dengan ini.
Penjara ini menggunakan pengaman kartu gesek. Hanya beberapa penjaga yang membawa kartu dengan kode khusus di dalamnya untuk membuka kunci penjara. Setelah mendapatkan kode khusus, setelah penjaga penjara lewat, aku dapat terbebas dan berkeliaran menuju target yang akan kubunuh kali ini.
Aku hanya mencari seseorang yang kucari, persis dengan memoriku. Melalui penyadapan kamera CCTV ini, aku bisa melihat seluruh keadaan, meskipun aku di dalam sel sekalipun.
Jackpot! Aku menemukannya! Dia berada di bagian olahraga dan GYM. Sayang sekali, saat itu dia sedang marah pada seorang tahanan lain. Dia adalah tahanan yang kucari!
Dengan ponselku, aku mendapatkan akses mudah menuju lapangan luas. Tapi itu bukan tempat yang cocok untuk membunuh orang karena itu adalah tempat umum.
Ketika melihat nomor tato tahanannya, ternyata dia berada di hadapan sel tahanan tepat aku tadi ditahan. Itu adalah sebuah kebetulan!
Sehingga aku kembali ke selku untuk menunggu waktu yang tepat. Waktu yang tepat adalah disaat targetku kembali ke dalam sel.
Sambil menunggu, aku memantaunya dari CCTV yang aku retas diam-diam melalui ponsel. Dia sedang dipukul oleh penjaga sel karena suatu hal. Aku suka melihat adegan itu.
Beberapa saat kemudian, dia kembali ke selnya. Wajah dengan penuh bonyok dan luka. Menunggu lagi pada saat tidak ada yang berjaga pada jajaran lantai ini.
Di saat tidak ada penjaga, maka aku retas CCTV agar tetap tidak merekamku. Kemudian aku membuka kunci sel, kemudian keluar dari selku. Semua yang memandangku memang terlihat iri karena aku dapat bebas. Tapi bukan itu yang kuharapkan.
Target yang kutuju juga melihatku menghampirinya, dengan pistol di tanganku.
"Apa yang ... kamu lakukan?" aku tak menjawab pertanyaannya kemudian langsung menembaknya tanpa alasan.
Darah keluar dari tubuhnya. Dia meronta kesakitan. Hanya satu kali, kurasa tak puas. Terlebih lagi hanya mengenai bahunya.
Ketika dia hendak berteriak kesakitan, lalu kutembak tepat pada mulutnya. Darah muncrat ke lantai. Suara seraknya terdengar jelas. Kurasa itu belum mematikan. Kutembakkan lagi, dan lagi, hingga dia tak bergerak.
Semua yang melihatku, sebagian menampakkan mimik ketakutan, puas, dan tidak rela apabila aku membunuhnya. Pikirku, mungkin tahanan ini memiliki banyak musuh sehingga aku diberi misi untuk membunuhnya.
Setelah selesai, aku hanya melakukan hal yang sama ketika melarikan diri. Hal klasik yang dilakukan semua penyelundup, termasuk hacker sepertiku. Penyamaran.
Salah seorang tahanan yang pertama kali memberiku ponsel hackerku, juga memberikanku seragam penjaga tahanan ketika aku menyelesaikan tugasku. Tahanan itu juga yang memintaku untuk membunuhnya sekaligus ikut dalam organisasi hacker.
Kurasa dia puas menonton adegan tersebut.
Kami hacker, penyelundup dan pembunuh. Kami ada dimana saja dalam jumlah banyak. Tak terlihat. Telepon kami untuk meminta jasa kami.
Karya: Rafi Izam
Tgl: 12 November 2014
----------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
Ini hanya cerita fiktif. :v

Tidak ada komentar:
Posting Komentar