Hari ini, Masha berjalan gontai menuju sekolah. Seperti biasa, tak ada hal yang perlu ditarik maupun menarik. Pelajaran,hal yang apapun membosankan tak perlu menjadi mupeng untuk dipelajari. Dia berharap bisa pulang cepat dan bisa menuju ke rumahnya. Tapi sebelum dia ke rumahnya, dia merasa BT. BT karena dia memiliki pacar tapi dia merasa seperti tidak memiliki pacar. Betapa sulit bila keadaannya seperti di PHP seperti ini.“Hai, yank!” panggilan lembut dari seorang seorang cowok yang berperawakan jangkung dengan kacamata kotak glass tanpa bingkai, dia sedikit membungkuk. Mungkin karena dia tidak nyaman dengan tinggi badannya itu.“Ada apa, Ilham?” itulah nama cowok tersebut.
Marsha dan Ilham telah lama berpacaran. Sekitar dua tahun berpacaran, namun kondisi saat ini mulai kurang hangat dan malah saling berlaku dingin. Walaupun kedua orang tua mereka tahu bahwa anak mereka sedang berpacaran, tapi kondisi ini membuat Marsha diserang penyakit yang bernama nyesek setiap hari.
“Besok mau belajar apa lagi?” ucapnya riang. Tak biasanya Ilham menjadi hangat dan riang seperti itu.
“Aku lagi males nih.” Jawabnya cuek.
“Ayolah, kan habis ini ujian. Masakkamu males terus sih, yank.” Bujuknya dengan sedikit mengeluskan kepala wanita yang berada di sebelahnya sekaligus tak terlalu tinggi untuk mencapai kepala si cowok.
“Kamu kok gak mengerti perasaanku sih, yank? besok tuh ulang tahunku. Sedangkan kamu malah sibuk dengan urusanmu sendiri.” Gerutunya. Tapi ketika Ilham memegangi tangan Masha, perempuan itumalah menghindar lalu pergi.
Cowok jangkung itu melepaskankacamatanya sambil mengucapkan lirih. “tunggu saja, besok.” Cowok itumengeluarkan pisau ukuran besar bergeriginya lalu hendak mendekati Masha. Namunterlambat, perempuan itu terlalu cepat untuk memanggil taksi.
---
“Ma, aku pulang.” Ucapnya ketikamembuka pintu rumahnya. Rumah yang mewah.
Tak bisa dideskripsikan betapa mewahrumah ini. Orang yang memiliki akal waras yang melihatnya pasti setuju apabilarumah yang ditempati Masha adalah rumah yang mewah. Selain mewah, rumah ini tidak ada orang kecuali dirinya dan pembantunya.
Pembantu wanita itu menatap tajam kearah nona majikannya lalu seketika berubah pandangan ketika nona majikan itu mendekat. “ada apa non? Kok teriak teriak begitu?”
“Mama mana?” tanyanya.
“Lagi keluar kok, non. Nanti malam baru pulang. Katanya lembur nitip pesan dan makanannya dihangatin di oven. Kalogak mau, nanti kubuatin ya?” ucap ramah pembantu wanita itu yang diketahuibernama Painem.
Masha lalu berjalan menuju kamarnyayang terletak lantai dua itu. Pembantu wanita itu tetap saja mengamatinyawalaupun dari bawah. Tatapannya begitu dingin seakan menyimpan sesuatu didalamnya.
---
Tak ada yang peduli dengan keesokan harinya. Itulah yang dipikirkan dari gadis muda ini. orang tuanya yang sibuk dengan pekerjaannya, pacar yang perhatian pada tugas daripada pacarnya sendiri, dan orang terdekatnya. Sangat memuakkan apabila hidup tanpa dicintai sama sekali, menurutnya.
Masha ngambek hingga malam. Dia tak mau makan, tak belajar dan tak melakukan apa apa selain menangisi kesedihandirinya di tempat tidur kesayangannya. Tempat tidur dengan beberapa boneka bernuasa dominan pink dan selimut biru muda. Dua kombinasi warna kesukaannya.
Dia menangis tak mau makan. Tanpa disadarinya, ada mata yang mengawasinya diluar. “Bagaimana?” tanya orang pertama melalui walkie talkie.
“Nanti saja dulu, tunggu orangtuanya datang lalu kita datangi dia.” Tolak orang kedua di dalam rumah sambil memberi isyarat di luar.
“Bukankah itu akan merepotkan?” timpal orang pertama yang berpakaian serba hitam.
“Tidak. Justru itu peluang kita. Kita menunggu konfirmasi dan tandanya. Lalu kita akan masuk kedalam.” Ucapnya.
Orang kedua itu adalah Pembantu Masha sendiri, Painem. Dia menutup panggilan walkie talkienya lalu kembalimelanjutkan pekerjaannya sebagai pembantu.
---
Malam yang ditentukan itupun tiba.
Kedua orang tuanya telah kembali kerumah. Pembantu itu memberikan tanda bahwa orang tuanya telah pulang. Tentu saja, orang pertama itu mengerti maksud sinyal itu dan langsung bergerak.
Orang pertama itu bersiap siap mengeluarkan pisau yang disiapkannya sedari tadi. Dia menyiapkan tubuhnya untuk segera masuk kedalam hingga kedua orang tua perempuan malang itu tertidur. Setelah kedua orang tua di konfirmasi melalui Painem bahwa mereka telah tidur. Dia akhirnya bersemangat untuk masuk ke dalam rumah mewah itu.
Ketika orang pertama itu masuk, tentu saja dia disambut oleh pembantu itu. “Okelah. Aku urus orang tuanya. Dan kamu urus anak perempuannya. Oke?”
“Sip. Dapet rezeki tambahan nih.” Ucapnya dengan semangat.
Orang pertama misterius itu adalahlaki laki. Setelah berpencar ke rumah masing masing. Laki laki misterius itumemasuki kamar Masha. Dia memandangi tubuh perempuan itu dibalut selimut birumuda itu.
Laki laki itu semakin mendekat hingga sampai berdiri di samping tempat tidur itu. Tanpa memberikan kesempatan pada korbannya, laki laki itu langsung membekap mulut perempuan itu hingga tak bersuara sambil menempelkan pisau di leher perempuan itu. Meskipun ruangannya gelap, tapi masih ada cahaya yang masuk dari jendela luar.
Sontak Masha terbangun dengan ancaman yang dekat, bahkan sedekat lehernya. Suaranya terbungkam oleh katupan mulut yang dibuat laki laki bertopeng misterius. Tentu, perempuan itu merasa ketakutan yang luar biasa dan ingin berteriak.
“Diam..!” teriak laki laki dibalik topeng itu. “atau kubunuh kau!” Masha diam ketika mendengar kata ‘dibunuh’. Secara psikologis,dia sangat ketakutan bahwa dia akan diancam. “orang tuamu telah dibunuh disana.Dan sekarang tinggal kamu saja yang masih hidup di rumah ini. Haha.”
Mendengar pernyataan itu, Masha menjadi semakintakut. Terlebih dia tak memiliki kemampuan untuk melawan dibalik selimutnya. Sekali bergerak, maka lehernya akan tergorok oleh pisau bergerigi.
“Manis juga kamu.” Puji perampok laki laki itu. “boleh dong kunikmati sebentar saja.” Masha semakin takut mendengarkannya. Dia menggeleng geleng keras ketika mendengarnya dengan mulut yang masih tertutup dengan tangan laki laki bertopeng itu.
Tak lama itu, painem datang dengan menyeret satu mayat. Lampu dinyalakan. Pandangan semakin jelas. Semua darah pekat berceceran di lantai dari wajah mayat ayah Masha dengan mata terbelalak. Lalu disusul dnegan mayat ibunya dengan darah yang tak kalah banyak.
“Mama...! Papa...! Painem? Jadi kamu bersekongkol?” teriak perempuan tak berdaya dalam hati.
“Sudah lihat, kan? Mereka sudah kami bunuh dan kini... giliranmu untuk menyusul mereka. Tapi ada syaratnya bila kamu mau tetap hidup. Patuhi perintahku tadi.” Ucap laki laki itu berat dibalik topengnya.
Masha itu mengangguk-angguk pelan. Meskipun berat, diapun pasrah karena kedua orang tuanya telah tiada. Mati ditangan perampok sekaligus orang dalam yang membantunya. Serasanya dia ingin menangis dan menahannya dengan menutup matanya dengan lamanya.
Kepala laki laki itu mendekat ke pada wajah Mashalalu membisikan kalimat, “Selamat ulang tahun, sayang.” perempuan didepannyayang mendengar terkejut dengan apa yang dikatakannya barusan. Dengan cepat, diamembuka matanya melihat laki laki itu membuka topengnya.
“Ilham?” kejutnya sambil memukul sedikit untuk melampiaskan rasa kesalnya. Dia hampir saja menangis karenanya.
Kemudian kedua orang tuanya bangun dari akting meninggalnya. “Jadi mereka pura pura?”
“Iya, nak. Nih kalo gak percaya cobain. Strawberri.”Ucap Ayah Masha sambil mencolek cairan merah pekat yang menempel di pipinya.
Semua orang tersenyum terkecuali Masha. Dia merasa terharu, kaget, marah, kesal, letih, dan tadi detak jantung berdegup cepat lalu sekarang menjadi normal kembali. Painem mengeluarkan kue ulang tahun yang disembunyikan di luar kamar Masha. Kueitu memiliki banyak lilin sesuai dengan umur Masha. Perempuan yang berulang tahun itu menutup mulutnya menahan haru akan semua ini.
“Ini siapa yang rencanain semua ini?” tanyanya ketika kue itu datang.
“Sebenarnya ini ide gila papamu yang memberi kejutan saat kamu belajar bareng sama Ilham. Tapi Ilham bilang kamu gak mau ikut belajar bareng. Jadinya kita pake rencana B yang kayak gini nih.” Jelas Ibu Masha dengan sedikit menyenggol manja tangan Ayah Masha.
“Hehe, maaf ya sayang.” Kini bergiliran Ilham yang membawa kue itu pada Masha yang masih berada di tempat tidur. ‘Ayo, cepat tiup.”
Masha akhirnya menuruti perintah kekasihnya lalusemuanya berlangsung sangat ramai. Perbincangan tentang masa depan, dan beberapa hal yang membuat momen ini tak terlupakan. Ulang tahun ini memang tak terlupakan dari beberapa ulang tahun sebelumnya sekaligus menghapus pandangan bahwasanya orang disekitarnya itu tidak peduli padanya.
Tamat
Sebenarnya hari ini ada orang yang paling kusayang ultah loh. yaitu emakku. <3 Selamat ulang tahun, emak. Semoga panjang umur, sehat selalu dan pokoe tambah sip. :D
(aku gak mungkin memberikan kejutan ulang tahun kayak cerita di atas pada emakku) XD

Tidak ada komentar:
Posting Komentar